Inspirasi hari
ini....
Namanya... Adul...
Aku bertemu
dengannya lagi hari ini... di sebuah TPA
dekat lingkungan kampus.
Sebenarnya... Jadwalku
mengajar sudah aku penuhi pada hari selasa kemarin, tetapi, kegembiraanku
ketika berkumpul dengan anak-anak kecil membuatku ingin kembali, sekiranya
bertemu dengan mereka merupakan cara yang aku gunakan untuk menghilangkan
kestresanku terhadap asbid dan konsul. Maka aku beranikan diri untuk meminta
izin mengajar di TPA tersebut hari ini kepada salah satu ustadzah yang setiap
hari mengajar di sana...
Kembali ke tokoh
kecil kita kali ini...
Adul....
Semula aku berpikir
kalau dia tak jauh berbeda dengan anak-anak lain, yang khas dengan bandel dan
ributnya. Justru semula aku berpikir dia biang ribut dari yang lain...
Tampilannya pun
khas, dengan peci kekecilan yang tak muat menutupi rambut depannya yang sedikit
gondrong, hingga rambut tersebut harus menyembul keluar seperti jambul
kebesaran. Itu yang membuat mudah membedakannya dengan yang lain, belum lagi
suaranya yang nyaring dan besar merupakan sesuatu yang cukup mencolok darinya.
Katanya... Adul
jualan...
Info itu aku dapat
setelah aku mengajar TPA hari pertama, selasa, 29 Januari 2013... jujur, aku
penasaran dimana Adul berjualan...
Dan... Rasa
penasaranku terbayar lunas, ketika kemarin, jum’at, 1 Januari 2013 Adul menjadi
salah satu murid yang aku simak bacaannya. Ketika dia mulai ingin memposisikan
diri, aku menyapanya pertama kali, “Adul kan?”
Dianya nyengir,
“Hehe.. Iya, Bu.” (Alamaaaakk, dia memanggilku ibu...)
“Katanya, Adul
jualan ya?” langsung saja aku membayar rasa penasaranku.
“Iya, Bu,” jawabnya
sembari mengambil posisi pewe.
“Jualan dimana,
Dul?” niat banget kan ya aku ngintrogasi dia.
“Di depan *teeeet(
menyebutkan salah satu pasar swalayan), tapi hari ini nggak jualan dulu, Bu,”
curcolnya.
“Loh, kenapa?”
tanyaku lagi.
“Soalnya mau ngaji,
Bu.”
Subhanallah... Batinku bertasbih. “Kenapa nggak ditinggal
dulu jualannya pas ngaji?” usulku.
“Nggak bisa, Bu.
Soalnya nggak ada yang jaga,” jawabnya lugu, “Makanya biasanya pulang duluan
pas ngaji, Bu. Tapi kadang-kadang itu, si Robi becandaan terus, jadi lama
pulangnya,” curhatnya lagi sembari membuka Al-Qur’annya.
Ada sedikit
keraguan ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi Adul anak yang kooperatif, jadi
aku beranikan diri bertanya padanya pada saat menulis tanggal di buku laporan
mengajinya, “Adul masih sekolah?”
“Udah nggak, Bu.
Nggak ada uang. Hehehe” jawabnya sebelum membaca ta’awuz.
Sekali lagi hatiku
bertasbih....
Aku dapat merasakan
ketangguhan seorang Adul yang masih belia... Andai saja dia bersekolah,
tentulah dia akan menawan dengan seragam merah putihnya. Disaat teman-temannya
tengah sibuk mendengarkan pelajaran-pelajaran dari guru, Adul telah mengambil
posisi, memerah keringatnya mencari nafkah.
Lalu... bagaimana
dengan kita? Sudahkah kita bersyukur dengan segala zona nyaman yang kita miliki
saat ini? Sehingga kita menjadi sosok yang tak setangguh Adul. Pernahkah
terpikir oleh kita, saat kita dahulu, berumur kurang dari 12 tahun harus
memerah keringat, berjualan, menantang terik matahari, mengacuhkan serbuan debu
jalanan, mencari nafkah seperti adik kita... Adul.
Pernahkah....
Terkadang... Kita
merasa bahwa diri adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini... Karena
ini lah... Itu lah... Sejuta alasan kita lontarkan untuk mendukung statement
konyol kita. Padahal itu sama saja dengan ungkapan-ungkapan tak tau diri kita
akan nikmat-nikmat Allah.
Dengan melihat
Adul.... sadarilah... bahwa masih banyak diluar sana mereka-mereka yang tak
sebetuntung kita...
Lihatlah!!! Allah
telah menciptakan kita dengan segala kelebihan... Berhusnudzonlah pada apa yang
telah Allah ciptakan dan Allah berikan.
Bila satu tangan
kita cacat, maka kita masih punya tangan yang lailn untuk menggapai...
Bila satu kaki kita
lumpuh, maka kita masih punya satu kaki yang lainnya untuk berpijak...
Dan...
Jangan sekalipun
menganggap rendah terhadap garis dan ciptaan Allah... karena hal tersebut
merupakan sebuah indikasi kebutaan hati kita terhadap kelebihan yang Allah
berikan...
Jangan dikira, yang
duduk itu tak punya kaki... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri...
NB:
Teruntuk Adul, pejuang kecil yang tangguh,
tak kenal lelah juga peluh... Terima kasih atas semua pelajaran yang tak kau
lisankan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar