Label

"Jangan dikiran yang duduk tak punya kaki.... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri." #tawadhu

Kamis, 07 Maret 2013

Pejuang Cilik Berhati Baja


Inspirasi hari ini....

Namanya... Adul...
Aku bertemu dengannya lagi hari ini...  di sebuah TPA dekat lingkungan kampus.
Sebenarnya... Jadwalku mengajar sudah aku penuhi pada hari selasa kemarin, tetapi, kegembiraanku ketika berkumpul dengan anak-anak kecil membuatku ingin kembali, sekiranya bertemu dengan mereka merupakan cara yang aku gunakan untuk menghilangkan kestresanku terhadap asbid dan konsul. Maka aku beranikan diri untuk meminta izin mengajar di TPA tersebut hari ini kepada salah satu ustadzah yang setiap hari mengajar di sana...
Kembali ke tokoh kecil kita kali ini...
Adul....
Semula aku berpikir kalau dia tak jauh berbeda dengan anak-anak lain, yang khas dengan bandel dan ributnya. Justru semula aku berpikir dia biang ribut dari yang lain...
Tampilannya pun khas, dengan peci kekecilan yang tak muat menutupi rambut depannya yang sedikit gondrong, hingga rambut tersebut harus menyembul keluar seperti jambul kebesaran. Itu yang membuat mudah membedakannya dengan yang lain, belum lagi suaranya yang nyaring dan besar merupakan sesuatu yang cukup mencolok darinya.
Katanya... Adul jualan...
Info itu aku dapat setelah aku mengajar TPA hari pertama, selasa, 29 Januari 2013... jujur, aku penasaran dimana Adul berjualan...
Dan... Rasa penasaranku terbayar lunas, ketika kemarin, jum’at, 1 Januari 2013 Adul menjadi salah satu murid yang aku simak bacaannya. Ketika dia mulai ingin memposisikan diri, aku menyapanya pertama kali, “Adul kan?”
Dianya nyengir, “Hehe.. Iya, Bu.” (Alamaaaakk, dia memanggilku ibu...)
“Katanya, Adul jualan ya?” langsung saja aku membayar rasa penasaranku.
“Iya, Bu,” jawabnya sembari mengambil posisi pewe.
“Jualan dimana, Dul?” niat banget kan ya aku ngintrogasi dia.
“Di depan *teeeet( menyebutkan salah satu pasar swalayan), tapi hari ini nggak jualan dulu, Bu,” curcolnya.
“Loh, kenapa?” tanyaku lagi.
“Soalnya mau ngaji, Bu.”
Subhanallah... Batinku bertasbih. “Kenapa nggak ditinggal dulu jualannya pas ngaji?” usulku.
“Nggak bisa, Bu. Soalnya nggak ada yang jaga,” jawabnya lugu, “Makanya biasanya pulang duluan pas ngaji, Bu. Tapi kadang-kadang itu, si Robi becandaan terus, jadi lama pulangnya,” curhatnya lagi sembari membuka Al-Qur’annya.
Ada sedikit keraguan ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi Adul anak yang kooperatif, jadi aku beranikan diri bertanya padanya pada saat menulis tanggal di buku laporan mengajinya, “Adul masih sekolah?”
“Udah nggak, Bu. Nggak ada uang. Hehehe” jawabnya sebelum membaca ta’awuz.
Sekali lagi hatiku bertasbih....
Aku dapat merasakan ketangguhan seorang Adul yang masih belia... Andai saja dia bersekolah, tentulah dia akan menawan dengan seragam merah putihnya. Disaat teman-temannya tengah sibuk mendengarkan pelajaran-pelajaran dari guru, Adul telah mengambil posisi, memerah keringatnya mencari nafkah.
Lalu... bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersyukur dengan segala zona nyaman yang kita miliki saat ini? Sehingga kita menjadi sosok yang tak setangguh Adul. Pernahkah terpikir oleh kita, saat kita dahulu, berumur kurang dari 12 tahun harus memerah keringat, berjualan, menantang terik matahari, mengacuhkan serbuan debu jalanan, mencari nafkah seperti adik kita... Adul.
Pernahkah....

Terkadang... Kita merasa bahwa diri adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini... Karena ini lah... Itu lah... Sejuta alasan kita lontarkan untuk mendukung statement konyol kita. Padahal itu sama saja dengan ungkapan-ungkapan tak tau diri kita akan nikmat-nikmat Allah.
Dengan melihat Adul.... sadarilah... bahwa masih banyak diluar sana mereka-mereka yang tak sebetuntung kita...
Lihatlah!!! Allah telah menciptakan kita dengan segala kelebihan... Berhusnudzonlah pada apa yang telah Allah ciptakan dan Allah berikan.
Bila satu tangan kita cacat, maka kita masih punya tangan yang lailn untuk menggapai...
Bila satu kaki kita lumpuh, maka kita masih punya satu kaki yang lainnya untuk berpijak...
Dan...
Jangan sekalipun menganggap rendah terhadap garis dan ciptaan Allah... karena hal tersebut merupakan sebuah indikasi kebutaan hati kita terhadap kelebihan yang Allah berikan...
Jangan dikira, yang duduk itu tak punya kaki... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri...
NB:
Teruntuk Adul, pejuang kecil yang tangguh, tak kenal lelah juga peluh... Terima kasih atas semua pelajaran yang tak kau lisankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar