Label

"Jangan dikiran yang duduk tak punya kaki.... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri." #tawadhu

Senin, 24 September 2012

PUTUSSS!

Ini... Hanya untaian surat yang saya dapat dari buku keren yang ditulis oleh Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya yang berjudul Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan...
Saya pribadi menyebutnya.... Surat Pemutusan Hubungan Pacaran (PHP). Yah, ini adalah surat memutuskan pacar dengan indah....Bacalah kawan-kawan.... Semoga bisa menjadi manfaat dan sebuah renungan.
           
Jangan lagi membuat Setan Bahagia!!
SPHP (Surat Pemutusan Hubungan Pacaran)
            Assalaamu ’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh..
          Ba’da tahmid dan shalawat...

          Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.
          Akhi, rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam. Yang siap Memberi apapun yang kupinta.ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.
          Maaf akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil, dan kerdil dihadapanNya. Ia berbuat apa saja sekehendakNya kepadamu. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya cemburu. Aku takut, hubungan kita selama ini membuatNya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.
          Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang pernah kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, mareh karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau tentang la2munanku yang selalu membayangkan wajahmu. Ia bisa marah. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.
          Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan citaku padaNya, tidak pada selainnya. Tapi tak cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi larangan-laranganNya termasuk dalam hubungan kita ini. Insyaallah, Dia punya rencana yang indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akn dipertemukan dengan seorang wanita shalihah. Ya, wanita shalihah yang pasti jauh lebih baik dariku saat ini. Ia yang akn membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.
          Akhi, aku akan segera menghapuskan namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya. Saudara di jalan Allah, akhi. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua, tapi seluruh orang  mukmin di dunia. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya, lalu beliau pun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih ledmbut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.
          Maaf akhi. Tak baik rasanya aku berlma-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati goreSan pena terakhirku di surat ini  adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, insyaallah.
Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.  

Rabu, 05 September 2012

Dinas Perdana


2 Syawal 1433 H

Dia bernama lelah. Yah!! Dia datang seperti Jelangkung. Jelas saja bukan aku yang mengundang. Aku tak kan sudi di datanginya. Kalau saja bukan karena.... Ah!! Aku sebal mengatakannya. Kalau saja bukan karena keadaan, mungkin lelah itu tak akan bersemayam. Bahkan kala itu, dia mulai mengakrabiku. Seperti sebuah materai yang sukar lepas dariku. Sebut saja aku ‘galau’ pada masa itu. Yah, masa itu adalah masa dimana saat aku dinas di salah satu rumah sakit terbesar di Kalimantan Selatan. Aku lelah dengan segala tetek bengeknya. Aku lelah bila setiap pagi harus antri mandi dengan antrian yang nggak bisa di tawar-tawar panjangnya. Aku lelah ketika pulang dinas mendapati air untuk mandi telah habis. Aku lelah ketika menghadapi harga-harga makanan melangit di sekitar kosan dan melihat isi dompet yang kerontang. Aku lelah ketika mendapati air dalam galon minum telah tandas hingga dasar. Aku lelah ketika harus gelisah mendengar suara azan, bukan karena azan-nya, tapi karena fakta bahwa azan berbarengan dengan jadwal men-TTV (Tanda-Tanda Vital) atau jadwal injeksi (menyuntik). Aku lelah merindu pada Banjarbaru dan Pelaihari, Banjarbaru dengan semua kegiatan keorganisasian yang menyenangkan lagi menenangkan, sedangkan Pelaihari dengan segala zona nyaman sebuah kampung halaman dan orang tua. Aku lelah berpenampilan seperti monster, mengenakan masker dan handscoon saat mendapati pasien dengan infeksi menular selayak Hepatitis, meski... Baiklah, untuk APD (Alat Perlindungan Diri). Aku lelah berkumpul dengan mereka-mereka yang diskusinya hanya seputaran tentang lelaki ataupun pacar.
Sampai akhrinya....
Lelah itu.... Mati!!! Lelah itu benar-benar mati. Bahkan aku, secuil pun tak akan mengizinkan lelah itu menjadi bangkai. Aku tak membiarkannya meninggalkan jejak tersamar. Kalian tau kenapa? Yah!!! Karena semangatku yang semula menjanin, kini dia lahir, dengan metamorfosa secepat kilat!! Semangat itu akhirnya membulat, membesar dan meledak!!! Meluber tak ku sangka-sangka. Aku sendiri tak tak dimulai dari kapan semangat ini datang. Yang jelas, aku sudah bisa menikmati ‘keadaan’. Aku menikmati saat dimana binar-binar senang pasien maupun keluarga pasien merasa puas dengan pelayanan kami, meskipun itu hanya sebatas mengganti infus, memperbaiki infus macet, maupun mengganti seprai. Aku menikmati saat dimana pasien maupun keluarga pasien memanggilku dengan sebutan ‘Sus’ (diambil dari kata Suster), padahal aku jelas-jelas calon bidan. Aku menikmati saat dimana aku mampu bercerita dan berguna bagi pasien maupun keluarga pasien. Aku menikmati saat dimana kakiku keram, kaku dan kelelalahan karena bolak-balik, melakukan pelayanan kecil-kecilan. Aku menikmati saat dimana aku memiliki teman-teman baru dari kampus-kampus yang berbeda setiap harinya. Aku menikmati senior-seniorku berkomunikasi dengan pasien maupun keluarga pasien dalam memberikan motivasi. Aku menikmati saat dimana aku bisa mencuri ilmu dari senior-seniorku. Aku menikmati saat dimana aku harus bandel mengganti spuit/suntukan yang lama dengan yang baru. Aku menikmati saat dimana aku membantu memecah ampul, applousing obat, sampai injeksi. Aku menikmati saat aku dan 6 temanku yang lainnya makan bersama, berbagi, meski hanya dengan satu porsi lauk. Aku menikmati saat dimana aku dan teman harus berbagi tempat tidur, secara, notabenenya kami menyewa satu kamar untuk enam orang, dan kemudian datang Ninin, jadilah bertujuh dalam satu kamar, lalulah, kami tidur ala sarden ukuran jumbo. Aku menikmati saat dimana aku keteteran menyingkap waktu, usai dinas lalu tancap gas memenuhi undangan rapat organisasi di Banjarbaru, dan menjelang maghribnya harus kembali pulang ke Banjarmasin, dan di waktu yang lain aku kembali ke Banjarbaru usai subuh, meembeku bersama embun, dengan kepentingan yang sama.
Dan sebagai amunisi tambahanku.... Saat itu tepatnya Sabtu malam, atau bagi yang sedang dimabuk nafsu berpacaran, mereka biasa menyebutnya malam Minggu. Aku mendapat tawaran menarik, bakar jagung, aku kira tawaran itu candaan biasa, yang tidak terealisasikan. Tawaran itu datang dari Kak Ervina Rahim dan Inunk. Bayangkan, aku baru mengenal kak Ervina dan Inunk, pertemuan kami tak lebih dari tiga kali... Dan akrab pun hanya melalui berbalas pesan singkat atau saat bertemu di facebook. Lalu beliau dengan akrabnya mengajakku. Aku bahagia diakrabi oleh mereka, akhwat-akhwat baik hati.
Malam itu, sabtu malam, dalam gerimis kecil-kecil kami menikmati jagung bakar, bertiga, si tepian Siring, Banjarmasin. Setelahnya... Kami mengunjungi rumah agung Allah, Masjid Agung Sabilal Muhtadin, tahukah kalian?! Itu adalah masjid yang aku impi-impikan, masjid yang membuat aku penasaran. Ternyata... Subhanallah. Maha Suci lagi Maha Besar Allah yang menciptakan keindahan. Kalian tahu, Sabilal Muhtadin benar-benar indah, luas lagi megah. Ada lafadz Allah dan Muhammad di salah satu sisi  luar masjid, aku sampai terperangah. Aku berkeliling bersama kak Ervina dan Inunk, hatiku semakin bertasbih. Didalam pencahayaan malam saja sudah begini indahnya, apalagi di kala siang, disaat semua sinar terpusat terang. Subhanallah.