*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba artikel hari Kartini, Salimah Banjarbaru (Kal-sel)
Walau telah termakan abad, tokoh-tokohnya
melenyap. Tapi kisah tak akan begitu saja mengasap. Masih tersimpan
dalam kepala bagaimana pada masa jahiliyah, pelecehan gender menjadi
sebuah paham yang tak bisa ditawar-tawar. Keberadaan wanita sangat
ditolak. Jabang-jabang bayi berjenis kelamin wanita harus dibunuh (lihat
QS.16,an-Nahl :57-60). MasyaAllah!
Untuk itu... Harus
ada wanita-wanita pejuang di setiap zamannya. Layaknya Nailah binti
al-Farafishah, istri dari Khalifah Ustman bin Affan. Nailah dengan
lantang turut serta mengangkat pedang ketika terjadi fitnah yang memecah
belah umat Islam pada tahun 35 Hijriyah, mengekor perjuangan Sang
Suami. Sosok cantik nan pemberani sesungguhnya. Bahkan hingga Sang Suami
tumbang oleh serangan musuh. Roboh dalam pangkuannya. Nailah masih Sang
Pemberani.
Di beberapa tahun silam, ibunda kita, sosok kebanggaan
kita, Raden Ajeng Kartini, dengan darah bangsawan tapi berjiwa
kesederhanaannya beliau berjuang, menjadi Sang Pemberani selanjutnya.
Bukan dengan pedang layaknya Nailah binti al-Farafishah. Tetapi dengan
pemikirannya. Meski tak berdarah-darah. Tapi beliau tak pernah menyerah.
Emansipasi yang dibawanya. Keadilan yang dituntutnya. Dengan lantang
Kartini menentang paham-paham kolot nan alot di zamannya yang
menempatkan wanita pada posisi sesempit-sempitnya, hanya pada lingkup ‘dapur,
sumur dan kasur’. Paham tersebut membuat wanita hanya
bersahabat pada tumpukan piring dan pisau, jejeran ember dan kendi-kendi
air, serta pada bantal dan guling. Hanya itu. Dan wanita tak punya hak
atas pena dan kertas. Tak punya hak atas kursi-kursi yang berjejer rapi
dan papan tulis. Menurut Kartini, ini jelas bukan keadilan.
Dan
kini... Lihat saja!! Sekolah-sekolah khusus wanita tak lagi bisa
dihitung dengan jari. Wanita masa kini telah memiliki lebih dari sekedar
pena dan kertas. Paham telah liberal, tak lagi kolot nan alot. Jadi,
apakah yang diperjuangkan Kartini pada masa dahulu telah terwujud di
masa sekarang? Apakah Emansipasi telah tercapai?? Tidak!! Oh, mungkin
memang bukan tidak.... Hanya saja belum terwujud sepenuhnya. Sebelumnya,
mari lihat diri kita, mari lihat lingkungan kita... Jadikan itu semua
sebagai cermin untuk menjawabnya.
Saat ini... Emansipasi dijadikan
tameng bagi para wanita. Paham liberal yang membuat emansipasi menjadi
nikung. ‘Suami-suami takut istri’ malah dijadikan landasan bagi sebagian
wanita, beralasan emansipasi. Lupa bahwa sampai kapanpun, lelaki adalah
pemimpin. Lelaki adalah imam. Lupa bahwa surga seorang istri adalah
taat pada suami.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin
bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan
pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi
lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisaa:34)
Wanita atau
gadis-gadis yang mulai bangga ber-tomboy ria, yang bukan hanya
ingin menyamakan perannya dengan lelaki, tapi mulai berambisi menyamakan
tampilan atau fisiknya dengan kaum lelaki. Padahal Allah jelas sudah
punya pembeda untuk keduanya. Yang tak akan pernah sama atau
disama-samakan yaitu rahimnya.
‘Dapur, sumur dan kasur’
memang paham sempit untuk wanita. Tapi untuk menjadi baik, paham
tersebut harus diperluas, bukan ditinggalkan. Coba saja tes, pada masa
sekarang, berapa banyak wanita yang bisa membedakan antara ketumbar dan
merica?! Bukankah telah menipis jumlahnya. Atau tanyakan saja, berapa
banyak wanita yang mengambil air dengan menciduknya? Ahh, pasti
kebanyakan lebih memilih menggunakan shower saja.
Bukan
begini harusnya... Bukan langkah-langkah nikung itu yang harus diambil
untuk mempertahankan emansipasi. Kalau terus begini, sama saja kita
lepas dari kandang macan langsung dicaplok buaya kelaparan.
Lepas dari pelecehan gender malah kesasar menuju kesetaraan gender.
Naudzubillah!!
‘Habis Gelap Terbitlah Terang’...
Itulah yang diinginkan Kartini. Sedangkan saat ini, kenapa pemahamannya
jadi keblinger menjadi ‘Habis Gelap Terbitlah Terang,
Perlahan-lahan Kembali Kelam.’ Reden Ajeng Kartini itu orang Indonesia,
orang asli Indonesia, bert-tradisikan Indonesia. Wanita-wanita sekarang
memang kebanyakan alasan, emansipasi disimpang siurkan. Berdalih
perkembangan zaman, tradisi baru bermunculan, ‘Kartini’ masa kini
katanya, kartini modern katanya. Wanita yang sukses di karir dan lupa
pada tugas rumah tangganya dibilang Kartini masa kini. Wanita yang jadi
korban mode negeri-negeri Eropa dibilang cermin nyata dari Kartini
modern. Bukankah itu justru cermin dari semakin melaratnya moral
wanita-wanita yang harusnya mendapat ucapan terima kasih dari Kartini
yang harusnya mengekor perjuangan Kartini.
Untuk
melanjutkan perjuangan mulia Raden Ajeng Kartini, mulailah pada diri
sendiri, gunakan diri sendiri untuk menjadi cermin bagi lingkungan.
Lingkungan akan menilai. Lingkungan akan mengamalkan. Karena kebaikan
dan keburukan akan kontras terlihat. Ingat!! Emansipasi bukan kesetaraan
gender!!! Tempatkan diri diposisi yang benar. Bagaimana pun wanita
adalah makmum. Bila wanita tersebut adalah istri, maka perintah suami
lah yang harus diikuti. Bila berkarir menjadi pilihannya. Maka tetap,
suami, anak dan rumah tangganya harus dinomor satukan. Jangan menjadikan
emansipasi menjadi alasan untuk menyimpang dari tanggung jawab. Dan
apabila ia adalah seorang gadis pelajar, maka emansipasi baginya adalah
giat belajar. Jadikan sosok Kartini sebagai pelecut. Ingat!!! Di masa
Kartini, ilmu itu mahal. Dunia sekolah itu mimpi. Dan apakah saat mimpi
Kartini itu sudah didapatkan pada masa kini, mau disia-siakan begitu
saja?!
Lihatlah anak-anak negeri, gadis-gadis negeri yang hanya
untuk bersekolah saja mereka harus meniti jembatan mengerikan, jembatan
rapuh yang dibawahnya mengalir arus sungai deras nan mengerikan, yang
bisa dengan mudah menenggelamkan tubuh-tubuh kecil mereka. Merekalah
Kartini-Kartini kecil masa kini.
Lihatlah, Bunda Kembar, Bunda
Ryan dan Bunda Rossa... Sedari belia sudah terlatih hatinya untuk
berbagi. Semua pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki dengan
sukarela mereka bagi. Tanpa pamrih. Tanpa mengharap balasan apalagi
imbalan. Hingga kini Bunda Kembar telah mendirikan sebuah sekolah
kejuruan, gratis. Bunda Kembar merangkul anak-anak jalanan, anak-anak
yang semula hanya mengenal kolong jembatan, lampu merah dan rel kereta
api. Bunda Kembar adalah Kartini, Kartini masa kini.
Ayolah...
Kita hanya melanjutkan perjuangannya... tidak akan lebih susah dari apa
yang telah Raden Ajeng Kartini lakukan.
***