Label

"Jangan dikiran yang duduk tak punya kaki.... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri." #tawadhu

Senin, 18 Maret 2013

Workshop Kepenulisan FLP Banjarmasin


            Hari ini...Untuk kedua kalinya, aku datang ke workshop kepenulisan FLP dimana bang Boim Lebon yang menjadi narasumbernya. Walaupun peserta tak sebanyak workshop sebelumnya, tetapi bagiku, acara kali ini tetap memiliki jiwa antusiasme, baik dari peserta maupun empunya acara, yakni FLP Cabang Banjarmasin.
            Aku sendiri sudah mempersiapkan diri sejak subuh dini hari, dengan malam sebelumnya dengan tlaten ku setrika baju yang akan aku kenakan dan mengemas barang-barang yang diperlukan didalam tas kesayangan.
            Paginya, aku charger semangat dengan menenggak segelas susu coklat. Walaupun pagi ini temanku, Ridha, urung berangkat, aku akan tetap maju tak gentar.
Setelah hari-hari sebelumnya janjian berangkat bareng dengan rombongan FLP Cabang Banjarbaru. Maka diputuskan lah Minggu pagi kami berangkat jam setengah 8, karena acara memang dijadwalkan jam 09.00 wita. Setelah melalui proses yang alot karena saling tunggu, maka sekitar jam setengah 9, personil kami barulah lengkap, diantaranya, aku, Inunk, Naila, Ery, Intan, Ervi, 3 teman Inunk dan 2 teman Ery. Kami capcus.
Kalian tahu?? Kesalahan terbesar kami kala itu?!
Terlambat? Hemmmm... memang sih kami jelas terlambat.
Salah jadwal? Ya kemungkibnan itu kecil laaah, secara saat itu aku lagi rombongan, jadi kalo memang penyakit pikunku kambuh, teman-teman yang lainnya bisa saja mengingatkan.
Hemm... baiklah, aku akui kesalahan terbesar kami, ialah..... kami tidak tahu tempat, kami buta arah, sampai hari H kami nggak tahu dimana itu workshop diadakan. Kami hanya bermodal denah yang dijabarkan panitia lewat sms. Beberapa temanku yang sedikit mengenal Banjarmasin, mendapat bayangan kasar. Tetapi belum pasti. Banjarmasin memiliki begitu banyak jalan yang semuanya memiliki kemungkinan untuk kami tersasar dengan indahnya.
Manusia dituntut untuk ikhtiar agar benar-benar mendapat hasil maksimal. Alhasil, kami terus saja melaju menuju puncak, eh, tempat. Kali ini selain denah kasar, kami juga membawa serta tawakkal sebagai bekal.
Pertolongan Allah itu nyata. Benar-benar nyata saat kuasaNya benar-benar menuntun kami ke jalan yang benar. Hehehe. Kami gagal kesasar. Hanya saja, keterlambatan tak mampu kami hindari, kami sampai di lokasi sekitar jam setengah 10. Tetapi kami beruntung, karena saat itu acara belum dimulai.
Acara berlangsung dengan mengesankan, dan tentunya.... Bertebaran bingkisan, baik dari panitia, sponsor maupun dari bang Boim Lebon sendiri. Bang Boim sendiri menciptakan sebuah suasana yang nyaman, kocak, jujur dan polos. Kami pun langsung di rangsang untuk aktif menulis, kami dibimbing dan dibina secara langsung untuk menulis sebuah skenario, dimana skenario yang kami buat tersebut kemudian dikumpulkan kembali ke beliau. Benar-benar mantap!!! Selain itu, saat istirahat/break, jajaran nasyid dari FSI Ulul Albab voice pun perform. Mengagumkan.

Kamis, 07 Maret 2013

Pejuang Cilik Berhati Baja


Inspirasi hari ini....

Namanya... Adul...
Aku bertemu dengannya lagi hari ini...  di sebuah TPA dekat lingkungan kampus.
Sebenarnya... Jadwalku mengajar sudah aku penuhi pada hari selasa kemarin, tetapi, kegembiraanku ketika berkumpul dengan anak-anak kecil membuatku ingin kembali, sekiranya bertemu dengan mereka merupakan cara yang aku gunakan untuk menghilangkan kestresanku terhadap asbid dan konsul. Maka aku beranikan diri untuk meminta izin mengajar di TPA tersebut hari ini kepada salah satu ustadzah yang setiap hari mengajar di sana...
Kembali ke tokoh kecil kita kali ini...
Adul....
Semula aku berpikir kalau dia tak jauh berbeda dengan anak-anak lain, yang khas dengan bandel dan ributnya. Justru semula aku berpikir dia biang ribut dari yang lain...
Tampilannya pun khas, dengan peci kekecilan yang tak muat menutupi rambut depannya yang sedikit gondrong, hingga rambut tersebut harus menyembul keluar seperti jambul kebesaran. Itu yang membuat mudah membedakannya dengan yang lain, belum lagi suaranya yang nyaring dan besar merupakan sesuatu yang cukup mencolok darinya.
Katanya... Adul jualan...
Info itu aku dapat setelah aku mengajar TPA hari pertama, selasa, 29 Januari 2013... jujur, aku penasaran dimana Adul berjualan...
Dan... Rasa penasaranku terbayar lunas, ketika kemarin, jum’at, 1 Januari 2013 Adul menjadi salah satu murid yang aku simak bacaannya. Ketika dia mulai ingin memposisikan diri, aku menyapanya pertama kali, “Adul kan?”
Dianya nyengir, “Hehe.. Iya, Bu.” (Alamaaaakk, dia memanggilku ibu...)
“Katanya, Adul jualan ya?” langsung saja aku membayar rasa penasaranku.
“Iya, Bu,” jawabnya sembari mengambil posisi pewe.
“Jualan dimana, Dul?” niat banget kan ya aku ngintrogasi dia.
“Di depan *teeeet( menyebutkan salah satu pasar swalayan), tapi hari ini nggak jualan dulu, Bu,” curcolnya.
“Loh, kenapa?” tanyaku lagi.
“Soalnya mau ngaji, Bu.”
Subhanallah... Batinku bertasbih. “Kenapa nggak ditinggal dulu jualannya pas ngaji?” usulku.
“Nggak bisa, Bu. Soalnya nggak ada yang jaga,” jawabnya lugu, “Makanya biasanya pulang duluan pas ngaji, Bu. Tapi kadang-kadang itu, si Robi becandaan terus, jadi lama pulangnya,” curhatnya lagi sembari membuka Al-Qur’annya.
Ada sedikit keraguan ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi Adul anak yang kooperatif, jadi aku beranikan diri bertanya padanya pada saat menulis tanggal di buku laporan mengajinya, “Adul masih sekolah?”
“Udah nggak, Bu. Nggak ada uang. Hehehe” jawabnya sebelum membaca ta’awuz.
Sekali lagi hatiku bertasbih....
Aku dapat merasakan ketangguhan seorang Adul yang masih belia... Andai saja dia bersekolah, tentulah dia akan menawan dengan seragam merah putihnya. Disaat teman-temannya tengah sibuk mendengarkan pelajaran-pelajaran dari guru, Adul telah mengambil posisi, memerah keringatnya mencari nafkah.
Lalu... bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersyukur dengan segala zona nyaman yang kita miliki saat ini? Sehingga kita menjadi sosok yang tak setangguh Adul. Pernahkah terpikir oleh kita, saat kita dahulu, berumur kurang dari 12 tahun harus memerah keringat, berjualan, menantang terik matahari, mengacuhkan serbuan debu jalanan, mencari nafkah seperti adik kita... Adul.
Pernahkah....

Terkadang... Kita merasa bahwa diri adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini... Karena ini lah... Itu lah... Sejuta alasan kita lontarkan untuk mendukung statement konyol kita. Padahal itu sama saja dengan ungkapan-ungkapan tak tau diri kita akan nikmat-nikmat Allah.
Dengan melihat Adul.... sadarilah... bahwa masih banyak diluar sana mereka-mereka yang tak sebetuntung kita...
Lihatlah!!! Allah telah menciptakan kita dengan segala kelebihan... Berhusnudzonlah pada apa yang telah Allah ciptakan dan Allah berikan.
Bila satu tangan kita cacat, maka kita masih punya tangan yang lailn untuk menggapai...
Bila satu kaki kita lumpuh, maka kita masih punya satu kaki yang lainnya untuk berpijak...
Dan...
Jangan sekalipun menganggap rendah terhadap garis dan ciptaan Allah... karena hal tersebut merupakan sebuah indikasi kebutaan hati kita terhadap kelebihan yang Allah berikan...
Jangan dikira, yang duduk itu tak punya kaki... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri...
NB:
Teruntuk Adul, pejuang kecil yang tangguh, tak kenal lelah juga peluh... Terima kasih atas semua pelajaran yang tak kau lisankan.