Label

"Jangan dikiran yang duduk tak punya kaki.... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri." #tawadhu

Rabu, 27 Juni 2012

Gundukan Tanah Merah


“Umi harusnya tahu bagaimana perasaan Alif, mana mungkin Alif bisa begitu saja menerima seorang wanita yang tiba-tiba mengaku sebagai ibu kandung Alif?!!” Itulah yang disuarakan Alif sebelum melangkahkan kakinya menuju kamar berpintu ukiran. Meninggalkan seorang wanita paruh baya yang terperangah, tak percaya pada perkataan keras anak asuhnya. Ini bukan Muhammad Alif Febrian yang dikenalnya. Tapi wanita paruh baya tersebut memahaminya... Karena dirinya tahu.
        Umi Huda, begitu anak-anak asuh memanggil wanita paruh baya itu. Pandangan Umi Huda menerawang... Kala itu, Alif masih berusia enam bulan saat polisi mengantarkannya ke Panti Asuhan Bumi Mulia yang di kelolanya. Polisi hanya menjelaskan bahwa selangkah lagi Alif akan dijual oleh ibu kandungnya seharga 15 juta. Senyum Alif merebak saat itu, Umi Huda mencintainya, mencintai senyum tulus dari seorang anak terbuang layaknya Alif. Bahkan cinta Umi Huda masih sama hingga kini Alif telah sukses menjadi seorang perawat profesional di salah satu rumah sakit terkemuka di Banjarmasin. Kesuksesan tak meninggikan hati Alif, tekad yang membuat Alif tetap bertahan di panti, membantu perekonomian panti, meringankan beban Umi dan ingin bersama adik-adik panti katanya. Subhanallah.
       Umi sebenarnya tak rela bila harus kehilangan sosok yang sudah dirawatnya selama 23 tahun itu. Tapi mau bagaimana lagi, yang berhak atas Alif adalah ibu kandungnya, ibu yang 2 hari lalu datang ke panti, dan mengaku bahwa dirinya adalah ibu kandung dari Alif, bersama dengan bukti-bukti tertulis berupa akta kelahiran dan beberapa foto Alif. Dan saat Umi Huda menjelaskan pada Alif, Alif berontak, memungkiri bahwa ibu tersebut adalah ibu kandungnya.
***
       Pagi merayap, subuh perlahan melenyap. Matahari akan meraja. Sinarnya sudah mulai berontak di ufuk timur. Tak sabar merenggut embun. Lima menit yang lalu Alif usai mengajar ngaji anak-anak panti. Dan sekarang dengan gesit membereskan beberapa iqro’ dan Alqur’an di meja mushola sebelum akhirnya menghampiri Umi Huda di dapur. Menyambut sarapan bersama adik-adik panti.
       “Ya sudah, Kak Alif berangkat kerja dulu... Kalian jangan nakal, bantuin Umi beres-beres yaa...” pesan Alif kepada adik-adik panti saat beranjak dari meja makan yang disambut koor setuju. “Alif berangkat ya, Umi. Assalamualaikum.” Lanjutnya sembari mencium tangan Umi Huda.
       “Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya, Nak,” sahut Umi Huda.
       “Abaaaaang Aliiiiiiff.” Ada sebuah teriakan kecil saat Alif tengah memasang sepatu putihnya, yang senada dengan warna seragam dinasnya. Alif menoleh dan mendapati asal suara. Ada gadis kecil yang tergopoh menuju ke arahnya.
       “Kenapa Uni, Sayang? Kok lari-lari?” tanya Alif dengan lembut sembari mengusap kepala gadis kecil tersebut.
       “Abang, kemalin kan Ipah udah dapet olang tua balu. Uni pengen kayak Ipah. Nanti kalo abang ketemu olang tua Uni, bilang-bilang ya, Bang,” terang gadis kecil bernama Uni dengan lugu dan cadel yang menjadi ciri khasnya.
       Alif sempat termenung, terharu. Kasihan adik kecilnya ini. “Iya, Sayang. Tapi Uni harus belajar yang rajin ya biar bisa ketemu orang tua Uni, abang berangkat dulu ya...”
       Uni mengangguk semangat, senyumnya terkembang sembari melambaikan tangannya pada Alif. Ada sesuatu yang bergejolak di hati Alif.
***
       Hari ini Alif kena jatah dinas pagi. Lumayan lah, setidaknya semangat pagi masih melekat. Dari perjalanan hingga rumah sakit, pikiran Alif tak berhenti memikirkan Uni. Ya, bukankah dirinya jauh lebih beruntung dari gadis kecil itu? Dia masih memiliki ibu, sedang Uni?!! Ah, tapi tetap saja, ego menundukkannya.
       Seperti biasa, koridor rumah sakit ini masih bisu, berlantai dingin dan acuh. Mati rasa pada tetesan darah, dan diam saat beberapa kursi roda menggilasnya. Alif menebar senyum pada pasien dan teman sejawat yang tertangkap matanya, tenaga kesehatan harus ramah. Wajib malah. Tapi ekor matanya terhenti pada seorang ibu yang tengah terduduk di taman, sendiri, ada selang infus yang melilit tangannya. Jilbabnya sesekali disapu angin, tapi tak mengusik, karena ibu tersebut masih terpaku. Diam. Alif tertarik, langkahnya tersedot.
       “Loh, ibu kok disini sendiri, nggak istirahat di kamar? Suster yang nemenin ibu mana?” sapa Alif sopan, mengambil posisi tepat di samping ibu.
“Percuma saya istirahat, toh saya akan mati juga...” jawab ibu itu, ada nada putus asa disana.
Alif terperanjat, tak menyangka ibu tersebut menjawab demikian. Alif memang tahu, bahwa ibu di sampingnya ini tengah menderita kangker rahim stadium akhir, berita itu Alif dengar dari teman sejawatnya kemarin. Tapi Alif tak menyangka ibu ini begitu putus asanya.
Alif menarik napas. “Semua orang pasti meninggal, Bu. Bukan tidak mungkin saya yang bakal meninggal duluan dari Ibu. Kalau itu memang takdir Allah.”
“Saya rela kalah oleh penyakit ini, asal saya bisa bertemu dengan anak saya.”
Kening Alif berkerut mendengar jawaban ngelantur ibu tersebut.
“Saya bersumpah. Saya mencintai anak saya. Lelaki biadab itu yang merenggut kebahagiaannya.”
Alif semakin tak mengerti. Tapi saat bibirnya terbuka, ingin bertanya. Ibu tersebut roboh. Nadinya melemah. Lenyap.
***
Ada suara pintu diketuk. Dari arah kamar Alif. Dengan cepat Alif melipat sajadahnya usai sholat Isya sebelum mengambil langkah seribu menuju pintu. Ada Umi Huda di baliknya, bersama dengan senyum teduhnya.
“Boleh Umi masuk?” tanya Umi.
Alif mengangguk, lalu kemudian menyingkir, memberi celah Umi Huda masuk. Umi Huda menarik kursi dari meja kerja Alif, sementara Alif sendiri memilih duduk anteng di tempat tidurnya.
“Nak, kamu pasti mengerti kenapa Umi disini kan?” kata Umi Huda memancing. Alif dapat menerka ke mana pembicaraan Umi Huda nantinya.
       “Maaf Umi. Apa Umi ingin membahas perihal ibu kandung?”
       “Kamu benar, Nak. Jadi, apakah kamu sudah percaya bahwa dia benar ibu kandungmu?” tanya Umi langsung pada topik.
       “Alif percaya padanya, Umi. Tapi Alif tak ingin bersamanya, Alif ingin tetap bersama Umi di panti,” jawab Alif, lelah menyangkal dari pertanyaan Umi.
       “Tidak kah kamu berniat menemuinya, Nak? Untuk sekedar menyambung ikatan ibu dan anak diantara kalian,” tanya Umi lagi, menekan Alif.
       “Untuk apa Umi? Alif sudah bahagia seperti ini, lagi pula, selama 23 tahun Alif terbiasa tanpa dia, Umi,”
       Umi Huda menarik nafas berat. “Nak, bagaimanapun surga Allah ada di telapak kaki ibu kandungmu. Umi tak ingin kamu kehilangan surga itu,” jelas Umi, matanya berkaca-kaca.
       “Tapi, Umi. Dia....”
       “Karena dia telah membuangmu? Begitukah?” potong Umi. Tenggorokan Alif tercekat, perkataan Umi tak terelakkan. “Ketahuilah, Nak. Ibumu tak berniat membuangmu, ayahmu lah yang menjebaknya, ayahmu yang sebenarnya menjualmu. Beberapa hari setelah itu, ayahmu meninggal karena over dosis narkoba yang dikonsumsinya, dan ibumu yang menanggung beban sebagai ‘narapidana’.”
       Alif lemas. Kedua telapak tangannya meremas kepala. Kepalanya nyeri. Ingin meledak.
       “Umi harap kamu bersabar, Nak. Baru saja Umi mendapat kabar bahwa ibumu telah meninggal... Ternyata selama ini ibumu tengah kritis. Besok pagi pemakamannya. Datanglah, Nak. Datanglah sebagai seorang anak yang berbakti.”
***
       Alif terduduk. Gundukan tanah itu jelas masih merah. Taburan bunga pun masih segar. Sudah lebih dari satu jam Alif terpaku memandangi nisan yang bertuliskan nama ibu kandungnya, Aini Zahara. Sekali gerak, tangannya berhasil merogoh sebuah foto dari saku celananya, foto seorang ibu muda yang tengah memangku anaknya. Ibu muda dalam foto itu adalah wanita paruh baya yang beberapa hari ditemuinya di taman rumah sakit, yang menemui ajal saat berbincang ‘ngelantur’ dengannya. Dan wanita itu adalah ibu kandungnya.
       Tangan Alif meraih nisan, mengelusnya dengan penuh sayang... “Maafkan Alif yang terlambat menyadari kasih sayangmu, Bu. Maafkan Alif yang belum sempat berbakti padamu, Bu. Alif janji akan menjadi anak yang shaleh untukmu, Bu. Hanya dengan itu Alif mampu berbakti padamu, Bu.” (Banjarbaru, juni 2012)

NB::
Alhamdulillah..... 
Cerpen inilah tulisan perdanaku yang nembus Banjarmasin Post (Edisi Minggu, 24 Juni 2012)
semoga bisa semakin memacu semangatku dalam menulis. Aamiin 

Kamis, 21 Juni 2012

Menghindar : Sekular Kapitalis


”Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk: 3)
***
Dalam dunia perkuliahan... Ana merasakan sendiri bagaimana kurangnya pendidikan agama. Tak ada istilah tawazhun (seimbang) dalam dunia kependidikan umum... Ilmu agama hanya diberikan sebagai muqaddimah, pembuka... Lalu diisi dan ditutup dengan pendidikan kejuruan. Ideologi dalam dunia kependidikan pun seperti mengarah ke Sekular Kapitalis (memisahkan agama dengan urusan dunia)
Mari renungkan... Sahabat-sahabat sekalian pasti pernah merasakan bagaimana jadwal mata kuliah yang rebutan dengan waktu sholat, baik itu sholat zuhur maupun ashar. Kalaupun diberikan waktu istirahat, perut pasti bergejolak meminta pemenuhan, disinilah kita dituntut menjadi ‘pemilih’.
Kalau sudah begitu... Kita dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdik lagi berbudi. Yah, supaya nantinya kita tak malu pada usia yang menua tapi masih jadi pribadi yang kosong lagi sia-sia. Apa kata dunia, kalau usia menua tapi kita kosong ilmu agama... Sedangkan pejuang-pejuang yang lain sudah menuntut ilmu menuju roma.
Bila kita tak mendapatkan sesuatu apa pun yang ada di depan kita, jangan biarkan diri kita sia-sia, lihat sekeliling, lebarkan tangan, dan temukan, masih banyak dunia-dunia yang ingin merangkul kita.
Saat di kampus tak lagi diajarkan pendidikan keagamaan, maka lebarkan jangkauan, masih ada organisasi-organisasi keislaman yang bersedia menerima kita. Dan ikutilah halaqah/liqo/ta’lim, keruk lah ilmu sebanyak-banyaknya dari murobby-murobby mumpuni. Bukan untuk menjadi pribadi sok pintar. Anggap saja ini usaha kita dalam rangka penebalan iman, anggap saja ini usaha kita untuk mencapai tawazhun. Biar saja dimunafikkan. Toh Allah Yang Maha Melihat Niatan.

Catatan kaki awam...
1.       Halaqah/liqo adalah pertemuan/majlis yang membentuk lingkaran yang beranggotakan maksimal 12 orang, anggota terstruktur dan ada agenda rutin.
2.       Ta’lim adalah pertemuan/majlis yang beranggotakan lebih dari 12 orang dan tidak rutin serta tidak terstruktur.
3.       Mutarobby adalah anggota yang mengikuti halaqah/liqo.
4.       Murobby adalah seseorang yang memberikan materi pada halaqah/liqo.


Senin, 18 Juni 2012

Jaga Mata


                Sssstt... Penulis mau bersenandung dulu nih, duduk yang anteng dan jangan rebutan tempat duduk. Akhwat di sebelah kanan hijab, dan ikhwannya di sebelah kiri hijab yaa (hehehe)... Fokuskan pendengaran!!! JJJ

“Jagalah hati, jangan kau kotori... Jagalah hati, lentera hidup ini.”

Gimana? Bagus kan yah?? #plak
Langsung ke materi aje yee... Hehehe, nanti kalo penulis banyak basa-basi takutnya malah beneran basi, yah, paling banter sendal pembaca pada melayang ke arah penulis. #gubraaakkk
Nah, dari sebait lagu yang penulis dendangkan (ketik deng yah), itu maknanya daleeeeemmm bener dah. Menjaga hati, karena apa? Yah karena hati adalah lentera hidup. Kalo hatinya udah nggak beres, gelap deh hidupnya. Kalo mau hatinya beres diapain yah? Dirapihin bisa kagak? Susah kagak? Ya kagaaaak laaaah, wong dari sononya kan Allah udah nyiptain hati dengan sebaik-baiknya penciptaan. Saking kita sebagai manusia aja yang makenya kagak tau aturan, semena-mena. Padahal kan yah, Allah itu ngasih buat dijaga... Nah, cara ngejaganya sendiri gimanaaaa??? Eits, sebelum membahas cara ngejaga hati, kita larinya ke penyebab ketidak beresan hati aja dulu yuk. Supaya kita nanti bisa pasang tameng buat ngejaga hati kita.
Ketidak beresan hati yah? Sebenarnya sih banyak loh sodara-sodaranya ketidakberesan hati itu, nggak kehitung malah. Tapi di sini  penulis mau ngupas (Bawang kali? Eh? Terserah penulis dong yah) tentang ‘Virus Merah Jambu’.
Virus Merah Jambu ini memang mematikan, nggak kalah deh sama Human Immunodeficiency Virus (HIV). Yah, meskipun sebenarnya sodaraan... Loh, kok sodaraan?? Ya iyaa... Kalau HIV kan yang diserangnya kekebalan atau bahasa kerennya itu yah Imunitas tubuh tuh, nah kalo Virus Merah Jambu ini kan yang diserangnya itu Iman. Dan satu lagi yang bikin HIV dan Virus Merah Jambu ini sodaraan... Karena apa hayoooo(hehehe)? Yah karena keduanya itu ibarat fenomena gunung es, nggak ketahuan kapan awalnya, eh, tau tau udah muncul ke permukaan. Membawa gunung berapi aktif pula. Na’udzubillah.
Nah, sekarang kita ngebahas masalah proses penularannya. Kalau HIV kan penularannya itu bisa aja dari tranfusi darah, jarum suntik, berhubungan suamu istri, dan lain-lain. Nah, kalau Virus Merah Jambu ini mengerikan lagi penularannya, lebih berbahaya dari HIV. Gimana nggak?? Wong penularannya itu lewat mata. Kalau udah tertular, duh, siap-siap aja dah terjangkit virusnya. Biasanya kalau udah terjangkit, kekebalan iman bisa turun drastis. Seseorang yang tahu jadi pura pura nggak tahu atau malah bikin tafsir ilmu sendiri. Atau malah pura-pura lupa. Parahnya lagi malah merasa tahu, jadi udah kePeDean aja tuh virus nggak bakal mematikan dirinya, segala alasan dilancarkan. Padahal yah, Virus Merah Jambu ini kalau udah menjangkit bisa menyebabkan kelumpuhan Iman dan Kebutaan Hati. Lalulah, Allah dibuatnya cemburu bahkan diduakan (masyaAllah).
Oh iya, pada tahu nggak nih?! Nggak aja gin yah... J
Virus Merah Jambu ini punya rute perjalanan loh sebelum melumpuhkan Iman...
Hah!! Masa?? Ya iya laaaahhhhh......
Rute perjalanan Virus Merah Jambu itu yah dari mata turun ke hati... Mengapa demikian? Yah itu karena Virus Merah Jambu itu bermula dari pandangan... Lalu nyessss, nyerep ke hati. Di bagian ini nafsu ikut ambil bagian. Nah, loh... Itulah mengapa Virus Merah Jambu jadi mematikan, wong nafsu mengekori.
Jadi... Yuuukkk, kita bersenandung lagi (hehee)...
“Jagalah hati, jangan kau kotori... Jagalah hati, lentera hidup ini...”
Nah, udah ada bayangan kan tentang Virus Merah Jambu... Udah bisa bikin imunitas kan mulai dari sekarang?! Udah bisa bikin tameng kan?!  

Pada dasarnya... Mata diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baiknya Penciptaan. Untuk melihat, untuk disyukuri... Karena mata notabenenya adalah gerbang hati, maka sudah seharusnya mata itu haruslah dijaga. Menjaga mata berarti menjaga hati, begitupun sebaliknya. Agar lentera dalam hati tetap bersinar sebagaimana mestinya. Nggak padam dengan adanya zina mata. Nggak susah kok buat menundukkan pandangan... Yah, siapa tau nemu koin emas atau uang, kan lumayan (hehee).
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,  yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur:30)
“Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud)






Rabu, 13 Juni 2012

Jurus ANTI Malas Menulis



Bagi ana, yang notabenenya pikunan... Mencatat itu adalah keharusan. Bahkan ana punya notes yang bisa buat ganjal pintu #pameeeerrrr.
                Dan ana percaya.... Menulis itu adalah bagian dari mengawetkan ilmu. Kalau ilmu yang kita dapat nggak kita abadikan, bagaimana kita mau berbagi? Kalo cuma ngomong koar-koar mah, ibaratnya itu.... Belum masuk kuping kanan, eh, udah mental lagi. Nggak ada yang nyantol ke pendengar. Belum lagi nanggung resiko sendal-sendal pendengar melayang bebas ke arah kita. Alamaaaakk.
                Ini nih, ilmu keren yang ana dapet pas pelatihan FLP Banjarbaru (Minggu, 25 Maret 2012), dengan pemateri handal, kak Saprudi, mantan ketua FLP Banjarbaru yang kini melebarkan sayapnya di FLP Kalsel.
                Disaat kita haus motivasi menulis, disaat kita merasa minim inspirasi dan disaat kita takut jelek... Intiplah tips-tips di bawah ini:
1.       Meluruskan niat dan tujuan.
Hasil yang kita dapat, tergantung dari niat. Niatlah karena Allah. Maka kita senantiasa Allah akan melapangkan jalan kita.
2.       Motivasi diri sendiri!! Ucapkan, “Orang lain bisa!! Maka kita pasti bisa!!”
3.       Jangan percaya pada ‘mood’, karena mood adalah alasan yang kita buat tanpa sadar. Jadi, menulislah karena keyakinan, bukan karena mood.
4.       Tidak punya waktu? Itu hanya alasan!! Selagi masih muda, gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya.
5.       Membagi waktu. Ya!! Allah punya 24 waktu untuk kita pergunakan. Sisihkanlah sejenak waktu untukmu berdua dengan pena. Menulislah.
6.       Bingung memulai?! Sejelek-jeleknya tulisan, itu lebih baik dari pada tidak menulis.
7.       Terimalah segala kritik!!! Karena kritik punya kekuatan untuk membangun.
8.       Tulislah apa yang kita pikirkan. Jangan memikitkan apa yang akan kita tulis.
9.       Bingung memunculkan ide?? Keluarlah, amati orang lain maupun lingkungan sekitar. Posisikan diri menjadi pengamat.
10.   Terkadang, saat pikiran kepikiran kata-kata keren, eh, itu kata mengasap gitu aja gara-gara nggak di catat, nggak bawa buku sama kertas alasannya. Maka, gunakanlah media yang ada untuk mendokumentasikan kata-kata tersebut.
11.   Jangan takut jelek!!! Ketika takut jelek itu mampir.... Tulis aja sejelek apa pun, mintalah pendapat teman terdekat atau langsung ke pakar yang jago nulis dan mintalah kritik dari mereka.
12.   Tidak menguasai topik? Ada dua jurus untuk mengatasinya:
a.       Membaca, karena dengan membaca kita akan mengenal hal-hal baru yang dapat menginspirasi diri kita.
b.      Diskusi,karena dari berdiskusi, kita dapat bertukar pikiran dengan lawan diskusi kita, itu berarti, ilmu yang ada padanya akan turut tersalurkan ke kita.
Jadi gimana? Setelah baca... Apa hati dan pikirannya udah mencak-mencak mau nulis?? Ayoooo.... Buruan ambil pena kalian (ana juga). Tapi jangan lupa... Sebelum nulis, baca Basmallah dulu yaa.
Oh iya, untuk penutupnya..... Ada satu kalimat yang ana inget, kata-kata ini dari mbak Ratna Dewi Idrus (penulis buku best seller, Betapa Allah Mencintaimu), beliau berucap, “ Niatkan menulis untuk Allah semata, biar Allah menggerakkan pena-pena kita.”