Label

"Jangan dikiran yang duduk tak punya kaki.... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri." #tawadhu

Senin, 23 April 2012

Menulis Surat Cinta untuk Ibu

Alhamdulillah, surat ini terpilih menjadi juara ketiga dalam Lomba "Menulis Surat Cinta untuk Ibu", yang diadakan oleh Bid. Perempuan DPD PKS Banjarbaru.

Sekedar Kata...
          Bismillah.... ucapku dalam hati yang sungguh hanya aku dan Tuhanku yang menjadi saksi dengar sesungguhnya. Surat ini... tentang seberapa besar cintaku... tentang seberapa besar kasihku...
          Bukan!! Jangan anggap surat ini sebagai baromater cinta dan kasihku... tetapi berdirilah pada sudut pandang dimana surat ini aku ciptakan untuk mengungkapkan apa yang tak bisa aku ucapkan.
          Terkadang... rentetan kata dalam lembaran putih itu menjadi begitu tak ternilai harganya saat keberadaannya mampu membuat apa yang tak bisa aku teriakkan, apa yang tak bisa aku ucapkan melalui suara dapat tersampaikan.. walau tak bisa menjangkau lebih ke dalam.
          Dan....
          Surat ini... aku haturkan hanya untuk satu-satunya malaikat  yang dikirim illahi secara nyata untukku dan saudariku... untuk rusuk kiri bapakku, rusuk kiri terbaik yang pernah ada, rusuk kiri yang melengkung indah dan perkasa yang putih dan menjaga... dialah umi, bunda, ibu, mamah, mama, mami, enyak, emak. Ya!! Dia adalah... MAMAKE... MAMA yang paling oKE .... peluk cium penuh kasih dari anakmu Ma...


Lebih dari Sekedar Wonder Women
          Assalamualaikum Mamake.... (terngiang di telinga sahutan yang biasa engkau lontarkan, “Wa’alaikumsalam Anake”)
          Mamake...
          Dengan ini... dengan surat ini... bukan berarti anakmu ini tak punya nyali untuk berucap langsung padamu... bukan Ma...
          Anakmu ini hanya ingin segala yang Mamake ajarkan... tentang semangat, kekuatan dan perjuangan itu  terabadikan... bukan menguap bila hanya dalam pikiran dan ucapan.
          Mamake... dulu.. bahkan mungkin engkau tahu, karena tak ada yang tak Engkau tahu... dulu... anakmu ini selau bermimpi punya kehidupan sendiri, jauh darimu, jauh dari bapak... dulu hatiku, batinku selalu teriakkan, “Bapak, Mamake... Leny ini sudah besar. Jangan diatur terus donk, Leny kan juga pengen kayak temen-temen...” yah, itu teriakan anakmu yang saat itu berusia kurang dari 17 tahun Mamake. Padahal... dan baru saat ini Leny sadar... bahwa sampai kapanpun Mamake akan selalu menganggap bahwa putrinya adalah seorang ‘gadis kecil’.
          Mamake... andai Mamake bisa mendengar teriakan Leny saat ini... teriakan ‘gadis kecil’ mu yang kini berusia lebih dari 18 tahun... “Mamake... Leny nggak pengen jadi dewasa, Leny nggak pengen jadi gede... Leny pengen selalu sama mamake... dimarahin tiap hari Leny juga rela.”
          Baru satu tahun berada dalam masa kedewasaan membuat anakmu ini mengerti betapa penting peranmu Mamake...
          Jarak 25 km pun sudah membuat anakmu ini ketar-ketir memarkir rindu yang semakin bertumpuk Ma...
          Terhitung lebih dari 17 tahun Leny menyia-nyiakan kasihmu Ma... beralasan ingin membahagiakanmu, tapi saat itu berulang kali Leny lalai pada petuahmu...
          Beralasan Engkau adalah nomer 1, tapi saat itu Leny membagi perhatian Leny pada masa muda Leny...
          Ungkapkanlah Ma... seberapa menggunungnya khilaf Leny... seberapa air matamu tumpah hanya karena tingkah Leny...
          Mamake...
          Di 18 tahun lebih ini...
          Di jarak 25 km ini...
          Di saat-saat Leny memperjuangkan kehidupan Leny sendiri... menjalani dan mengatasi hidup Leny sendiri... tak lepas dari harap Leny, Mamake disamping Leny Ma... dengan segala kebiasaanmu...
          Dimana setiap pagi ada lantunan suaramu membangunkan Leny...
          Dimana setiap sore ada cerita penuh semangat mengisi memori-memori Leny...
          Dimana setiap malam ada tawa khasmu atas lomba-lomba ‘unik’ yang engkau menangkan...
          Mamake.... Leny rindu semua itu...
          Sungguh... Leny rindu mencium tanganmu setiap pagi, Leny rindu mencium pipimu, Leny rindu candamu, Leny rindu tawa khasmu, Leny rindu kelincahan jogetanmu, Leny rindu bereksperimen tentang cemilan-cemilan malam denganmu, Leny rindu masakan-masakan terbaikmu, Leny rindu olokkanmu, Leny rindu berbagi kisah denganmu di setiap malam dan cuek pada tayangan televisi, Leny rindu berkeluh kesah denganmu.
          Leny rindu semua tentang mu, Ma...
          Dan sekarang... nggak ada lagi yang nemenin Leny belajar hingga larut malam, walau saat itu Mamake dalam keadaan ketiduran di depan tivi, tapi saat itu Mamake selalu berusaha menemani.
          Sekarang... nggak ada lagi yang terbangun di tengah malam dan membuatkan secangkir kopi untuk Leny yang saat itu bangun di sepertiga malam untuk belajar menjelang ulangan/ujian.
          Sekarang... nggak ada lagi yang nungguin Leny di depan rumah saat Leny pulang terlambat barang semenit dua menit.
          Sekarang nggak ada lagi yang tengah malam masuk ke kamar Leny hanya untuk sekedar memeriksa apakah jendela kamar Leny tertutup rapat, membenarkan selimut Leny, dan menutup pintu kamar kembali dengan teramat pelan...
          Semua itu Mamake lakukan tanpa adanya permintaan kan?!
          Mamake, kalau nanti ada yang tanya.. siapa pahlawan tanpa tanda jasa ?? itu Mamake. Karena Mamake tak pernah minta balasan.
          Siapa orang yang tak pernah lapar ?? itu Mamake. Karena Mamake tak akan berucap lapar sebelum anak dan suaminya merasa kenyang.
          Siapa orang yang terkuat ?? itu tentulah Mamake. Karena Mamake... walau bermandi peluh, tapi tak pernah sekalipun mengeluh.
          Wonder Women donk ?? bukan, jawab Leny... tapi Mamake lebih dari Wonder Women... karena ungkapan untuk Mamake tak akan pernah bisa terwakilkan.
          Waktu yang buat Leny belajar dan mengerti... bahwa harusnya dahulu Leny lebih menghargai saat-saat bersamamu... saat-saat dimana Leny masih leluasa memelukmu, leluasa memperhatikan keteduhanmu dikala tidurmu Ma...
          Ma... ijinkan Leny memperbaiki semuanya, karena tak mungkin Leny memutar waktu yang sudah terlampau lama terlalui...
          Ma... Mamake ingin punya anak seorang bidan kan?? InsyaAllah Leny akan berjuang Ma... setidaknya senyummu dan maafmu yang Leny jadikan tujuan...
          Jadi... seberapapun Leny terseok terjatuh, senyummu adalah amunisi untuk itu Ma...
          Mamake... apa Mamake ingat?? Sendal yang Leny berikan untuk Mamake... ya, sendal yang itu...
          Sendal itu semata-mata hanya untuk menjaga surga ditelapak kakimu Ma... untuk merawat surga yang sempat terlupakan oleh Leny Ma...
          Dari sini Leny selalu berdoa... semoga disaat Mamake merasa letih, Allah mengirimkan malaikat terbaik_Nya untuk memijitmu...
          Semoga disaat Mamake lapar... Allah menghidangkan segala sesuatu yang dapat mengenyangkanmu...
          Semoga disaat Mamake terlelap... Allah mengirimkan malaikat_Nya untuk membenarkan selimutmu...
          Semoga di saat Mamake sendiri... Allah mengirimkan malaikat_Nya agar Mamake tak merasakan sepi...
          Doaku untukmu Ma... selalu.....
AMIIIINNNN.
Salam Sayang Selalu...

                                                                              Banjarbaru, 26 Desember 2011
                                                                                  Yang selalu merindukanmu,


                                                                                      Anake, Leny Apriyanti