Label

"Jangan dikiran yang duduk tak punya kaki.... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri." #tawadhu

Sabtu, 05 Mei 2012

Emansipasi 'Tidak Sama Dengan' Kesetaraan Gender

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba artikel hari Kartini, Salimah Banjarbaru (Kal-sel)


Walau telah termakan abad, tokoh-tokohnya melenyap. Tapi kisah tak akan begitu saja mengasap. Masih tersimpan dalam kepala bagaimana pada masa jahiliyah, pelecehan gender menjadi sebuah paham yang tak bisa ditawar-tawar. Keberadaan wanita sangat ditolak. Jabang-jabang bayi berjenis kelamin wanita harus dibunuh (lihat QS.16,an-Nahl :57-60). MasyaAllah!
Untuk itu... Harus ada wanita-wanita pejuang di setiap zamannya. Layaknya Nailah binti al-Farafishah, istri dari Khalifah Ustman bin Affan. Nailah dengan lantang turut serta mengangkat pedang ketika terjadi fitnah yang memecah belah umat Islam pada tahun 35 Hijriyah, mengekor perjuangan Sang Suami. Sosok cantik nan pemberani sesungguhnya. Bahkan hingga Sang Suami tumbang oleh serangan musuh. Roboh dalam pangkuannya. Nailah masih Sang Pemberani.
Di beberapa tahun silam, ibunda kita, sosok kebanggaan kita, Raden Ajeng Kartini, dengan darah bangsawan tapi berjiwa kesederhanaannya beliau berjuang, menjadi Sang Pemberani selanjutnya. Bukan dengan pedang layaknya Nailah binti al-Farafishah. Tetapi dengan pemikirannya. Meski tak berdarah-darah. Tapi beliau tak pernah menyerah. Emansipasi yang dibawanya. Keadilan yang dituntutnya. Dengan lantang Kartini menentang paham-paham kolot nan alot di zamannya yang menempatkan wanita pada posisi sesempit-sempitnya, hanya pada lingkup ‘dapur, sumur dan kasur’. Paham tersebut membuat wanita hanya bersahabat pada tumpukan piring dan pisau, jejeran ember dan kendi-kendi air, serta pada bantal dan guling. Hanya itu. Dan wanita tak punya hak atas pena dan kertas. Tak punya hak atas kursi-kursi yang berjejer rapi dan papan tulis. Menurut Kartini, ini jelas bukan keadilan.
 Dan kini... Lihat saja!! Sekolah-sekolah khusus wanita tak lagi bisa dihitung dengan jari. Wanita masa kini telah memiliki lebih dari sekedar pena dan kertas. Paham telah liberal, tak lagi kolot nan alot. Jadi, apakah yang diperjuangkan Kartini pada masa dahulu telah terwujud di masa sekarang? Apakah Emansipasi telah tercapai?? Tidak!! Oh, mungkin memang bukan tidak.... Hanya saja belum terwujud sepenuhnya. Sebelumnya, mari lihat diri kita, mari lihat lingkungan kita... Jadikan itu semua sebagai cermin untuk menjawabnya.
Saat ini... Emansipasi dijadikan tameng bagi para wanita. Paham liberal yang membuat emansipasi menjadi nikung. ‘Suami-suami takut istri’ malah dijadikan landasan bagi sebagian wanita, beralasan emansipasi. Lupa bahwa sampai kapanpun, lelaki adalah pemimpin. Lelaki adalah imam. Lupa bahwa surga seorang istri adalah taat pada suami.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisaa:34) 
Wanita atau gadis-gadis yang mulai bangga ber-tomboy ria, yang bukan hanya ingin menyamakan perannya dengan lelaki, tapi mulai berambisi menyamakan tampilan atau fisiknya dengan kaum lelaki. Padahal Allah jelas sudah punya pembeda untuk keduanya. Yang tak akan pernah sama atau disama-samakan yaitu rahimnya.
 ‘Dapur, sumur dan kasur’ memang paham sempit untuk wanita. Tapi untuk menjadi baik, paham tersebut harus diperluas, bukan ditinggalkan. Coba saja tes, pada masa sekarang, berapa banyak wanita yang bisa membedakan antara ketumbar dan merica?! Bukankah telah menipis jumlahnya. Atau tanyakan saja, berapa banyak wanita yang mengambil air dengan menciduknya? Ahh, pasti kebanyakan lebih memilih menggunakan shower saja.
Bukan begini harusnya... Bukan langkah-langkah nikung itu yang harus diambil untuk mempertahankan emansipasi. Kalau terus begini, sama saja kita lepas dari kandang macan langsung dicaplok buaya kelaparan. Lepas dari pelecehan gender malah kesasar menuju kesetaraan gender. Naudzubillah!!
‘Habis Gelap Terbitlah Terang’... Itulah yang diinginkan Kartini. Sedangkan saat ini, kenapa pemahamannya jadi keblinger menjadi ‘Habis Gelap Terbitlah Terang, Perlahan-lahan Kembali Kelam.’ Reden Ajeng Kartini itu orang Indonesia, orang asli Indonesia, bert-tradisikan Indonesia. Wanita-wanita sekarang memang kebanyakan alasan, emansipasi disimpang siurkan. Berdalih perkembangan zaman, tradisi baru bermunculan, ‘Kartini’ masa kini katanya, kartini modern katanya. Wanita yang sukses di karir dan lupa pada tugas rumah tangganya dibilang Kartini masa kini. Wanita yang jadi korban mode negeri-negeri Eropa dibilang cermin nyata dari Kartini modern. Bukankah itu justru cermin dari semakin melaratnya moral wanita-wanita yang harusnya mendapat ucapan terima kasih dari Kartini yang harusnya mengekor perjuangan Kartini.

Untuk melanjutkan perjuangan mulia Raden Ajeng Kartini, mulailah pada diri sendiri, gunakan diri sendiri untuk menjadi cermin bagi lingkungan. Lingkungan akan menilai. Lingkungan akan mengamalkan. Karena kebaikan dan keburukan akan kontras terlihat. Ingat!! Emansipasi bukan kesetaraan gender!!! Tempatkan diri diposisi yang benar. Bagaimana pun wanita adalah makmum. Bila wanita tersebut adalah istri, maka perintah suami lah yang harus diikuti. Bila berkarir menjadi pilihannya. Maka tetap, suami, anak dan rumah tangganya harus dinomor satukan. Jangan menjadikan emansipasi menjadi alasan untuk menyimpang dari tanggung jawab. Dan apabila ia adalah seorang gadis pelajar, maka emansipasi baginya adalah giat belajar. Jadikan sosok Kartini sebagai pelecut. Ingat!!! Di masa Kartini, ilmu itu mahal. Dunia sekolah itu mimpi. Dan apakah saat mimpi Kartini itu sudah didapatkan pada masa kini, mau disia-siakan begitu saja?!
Lihatlah anak-anak negeri, gadis-gadis negeri yang hanya untuk bersekolah saja mereka harus meniti jembatan mengerikan, jembatan rapuh yang dibawahnya mengalir arus sungai deras nan mengerikan, yang bisa dengan mudah menenggelamkan tubuh-tubuh kecil mereka. Merekalah Kartini-Kartini kecil masa kini.
Lihatlah, Bunda Kembar, Bunda Ryan dan Bunda Rossa... Sedari belia sudah terlatih hatinya untuk berbagi. Semua pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki dengan sukarela mereka bagi. Tanpa pamrih. Tanpa mengharap balasan apalagi imbalan. Hingga kini Bunda Kembar telah mendirikan sebuah sekolah kejuruan, gratis. Bunda Kembar merangkul anak-anak jalanan, anak-anak yang semula hanya mengenal kolong jembatan, lampu merah dan rel kereta api. Bunda Kembar adalah Kartini, Kartini masa kini.
Ayolah... Kita hanya melanjutkan perjuangannya... tidak akan lebih susah dari apa yang telah Raden Ajeng Kartini lakukan.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar