Label

"Jangan dikiran yang duduk tak punya kaki.... Bahkan dia bisa lebih tinggi darimu saat berdiri." #tawadhu

Rabu, 05 September 2012

Dinas Perdana


2 Syawal 1433 H

Dia bernama lelah. Yah!! Dia datang seperti Jelangkung. Jelas saja bukan aku yang mengundang. Aku tak kan sudi di datanginya. Kalau saja bukan karena.... Ah!! Aku sebal mengatakannya. Kalau saja bukan karena keadaan, mungkin lelah itu tak akan bersemayam. Bahkan kala itu, dia mulai mengakrabiku. Seperti sebuah materai yang sukar lepas dariku. Sebut saja aku ‘galau’ pada masa itu. Yah, masa itu adalah masa dimana saat aku dinas di salah satu rumah sakit terbesar di Kalimantan Selatan. Aku lelah dengan segala tetek bengeknya. Aku lelah bila setiap pagi harus antri mandi dengan antrian yang nggak bisa di tawar-tawar panjangnya. Aku lelah ketika pulang dinas mendapati air untuk mandi telah habis. Aku lelah ketika menghadapi harga-harga makanan melangit di sekitar kosan dan melihat isi dompet yang kerontang. Aku lelah ketika mendapati air dalam galon minum telah tandas hingga dasar. Aku lelah ketika harus gelisah mendengar suara azan, bukan karena azan-nya, tapi karena fakta bahwa azan berbarengan dengan jadwal men-TTV (Tanda-Tanda Vital) atau jadwal injeksi (menyuntik). Aku lelah merindu pada Banjarbaru dan Pelaihari, Banjarbaru dengan semua kegiatan keorganisasian yang menyenangkan lagi menenangkan, sedangkan Pelaihari dengan segala zona nyaman sebuah kampung halaman dan orang tua. Aku lelah berpenampilan seperti monster, mengenakan masker dan handscoon saat mendapati pasien dengan infeksi menular selayak Hepatitis, meski... Baiklah, untuk APD (Alat Perlindungan Diri). Aku lelah berkumpul dengan mereka-mereka yang diskusinya hanya seputaran tentang lelaki ataupun pacar.
Sampai akhrinya....
Lelah itu.... Mati!!! Lelah itu benar-benar mati. Bahkan aku, secuil pun tak akan mengizinkan lelah itu menjadi bangkai. Aku tak membiarkannya meninggalkan jejak tersamar. Kalian tau kenapa? Yah!!! Karena semangatku yang semula menjanin, kini dia lahir, dengan metamorfosa secepat kilat!! Semangat itu akhirnya membulat, membesar dan meledak!!! Meluber tak ku sangka-sangka. Aku sendiri tak tak dimulai dari kapan semangat ini datang. Yang jelas, aku sudah bisa menikmati ‘keadaan’. Aku menikmati saat dimana binar-binar senang pasien maupun keluarga pasien merasa puas dengan pelayanan kami, meskipun itu hanya sebatas mengganti infus, memperbaiki infus macet, maupun mengganti seprai. Aku menikmati saat dimana pasien maupun keluarga pasien memanggilku dengan sebutan ‘Sus’ (diambil dari kata Suster), padahal aku jelas-jelas calon bidan. Aku menikmati saat dimana aku mampu bercerita dan berguna bagi pasien maupun keluarga pasien. Aku menikmati saat dimana kakiku keram, kaku dan kelelalahan karena bolak-balik, melakukan pelayanan kecil-kecilan. Aku menikmati saat dimana aku memiliki teman-teman baru dari kampus-kampus yang berbeda setiap harinya. Aku menikmati senior-seniorku berkomunikasi dengan pasien maupun keluarga pasien dalam memberikan motivasi. Aku menikmati saat dimana aku bisa mencuri ilmu dari senior-seniorku. Aku menikmati saat dimana aku harus bandel mengganti spuit/suntukan yang lama dengan yang baru. Aku menikmati saat dimana aku membantu memecah ampul, applousing obat, sampai injeksi. Aku menikmati saat aku dan 6 temanku yang lainnya makan bersama, berbagi, meski hanya dengan satu porsi lauk. Aku menikmati saat dimana aku dan teman harus berbagi tempat tidur, secara, notabenenya kami menyewa satu kamar untuk enam orang, dan kemudian datang Ninin, jadilah bertujuh dalam satu kamar, lalulah, kami tidur ala sarden ukuran jumbo. Aku menikmati saat dimana aku keteteran menyingkap waktu, usai dinas lalu tancap gas memenuhi undangan rapat organisasi di Banjarbaru, dan menjelang maghribnya harus kembali pulang ke Banjarmasin, dan di waktu yang lain aku kembali ke Banjarbaru usai subuh, meembeku bersama embun, dengan kepentingan yang sama.
Dan sebagai amunisi tambahanku.... Saat itu tepatnya Sabtu malam, atau bagi yang sedang dimabuk nafsu berpacaran, mereka biasa menyebutnya malam Minggu. Aku mendapat tawaran menarik, bakar jagung, aku kira tawaran itu candaan biasa, yang tidak terealisasikan. Tawaran itu datang dari Kak Ervina Rahim dan Inunk. Bayangkan, aku baru mengenal kak Ervina dan Inunk, pertemuan kami tak lebih dari tiga kali... Dan akrab pun hanya melalui berbalas pesan singkat atau saat bertemu di facebook. Lalu beliau dengan akrabnya mengajakku. Aku bahagia diakrabi oleh mereka, akhwat-akhwat baik hati.
Malam itu, sabtu malam, dalam gerimis kecil-kecil kami menikmati jagung bakar, bertiga, si tepian Siring, Banjarmasin. Setelahnya... Kami mengunjungi rumah agung Allah, Masjid Agung Sabilal Muhtadin, tahukah kalian?! Itu adalah masjid yang aku impi-impikan, masjid yang membuat aku penasaran. Ternyata... Subhanallah. Maha Suci lagi Maha Besar Allah yang menciptakan keindahan. Kalian tahu, Sabilal Muhtadin benar-benar indah, luas lagi megah. Ada lafadz Allah dan Muhammad di salah satu sisi  luar masjid, aku sampai terperangah. Aku berkeliling bersama kak Ervina dan Inunk, hatiku semakin bertasbih. Didalam pencahayaan malam saja sudah begini indahnya, apalagi di kala siang, disaat semua sinar terpusat terang. Subhanallah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar