2 Syawal 1433 H
Dia bernama lelah. Yah!! Dia datang seperti Jelangkung. Jelas saja bukan
aku yang mengundang. Aku tak kan sudi di datanginya. Kalau saja bukan
karena.... Ah!! Aku sebal mengatakannya. Kalau saja bukan karena keadaan,
mungkin lelah itu tak akan bersemayam. Bahkan kala itu, dia mulai mengakrabiku.
Seperti sebuah materai yang sukar lepas dariku. Sebut saja aku ‘galau’ pada
masa itu. Yah, masa itu adalah masa dimana saat aku dinas di salah satu rumah
sakit terbesar di Kalimantan Selatan. Aku lelah dengan segala tetek bengeknya.
Aku lelah bila setiap pagi harus antri mandi dengan antrian yang nggak bisa di
tawar-tawar panjangnya. Aku lelah ketika pulang dinas mendapati air untuk mandi
telah habis. Aku lelah ketika menghadapi harga-harga makanan melangit di sekitar
kosan dan melihat isi dompet yang kerontang. Aku lelah ketika mendapati air
dalam galon minum telah tandas hingga dasar. Aku lelah ketika harus gelisah
mendengar suara azan, bukan karena azan-nya, tapi karena fakta bahwa azan
berbarengan dengan jadwal men-TTV (Tanda-Tanda Vital) atau jadwal injeksi
(menyuntik). Aku lelah merindu pada Banjarbaru dan Pelaihari, Banjarbaru dengan
semua kegiatan keorganisasian yang menyenangkan lagi menenangkan, sedangkan
Pelaihari dengan segala zona nyaman sebuah kampung halaman dan orang tua. Aku
lelah berpenampilan seperti monster, mengenakan masker dan handscoon saat
mendapati pasien dengan infeksi menular selayak Hepatitis, meski... Baiklah,
untuk APD (Alat Perlindungan Diri). Aku lelah berkumpul dengan mereka-mereka
yang diskusinya hanya seputaran tentang lelaki ataupun pacar.
Sampai akhrinya....
Lelah itu.... Mati!!! Lelah itu benar-benar mati. Bahkan aku, secuil pun
tak akan mengizinkan lelah itu menjadi bangkai. Aku tak membiarkannya
meninggalkan jejak tersamar. Kalian tau kenapa? Yah!!! Karena semangatku yang
semula menjanin, kini dia lahir, dengan metamorfosa secepat kilat!! Semangat
itu akhirnya membulat, membesar dan meledak!!! Meluber tak ku sangka-sangka.
Aku sendiri tak tak dimulai dari kapan semangat ini datang. Yang jelas, aku
sudah bisa menikmati ‘keadaan’. Aku menikmati saat dimana binar-binar senang
pasien maupun keluarga pasien merasa puas dengan pelayanan kami, meskipun itu
hanya sebatas mengganti infus, memperbaiki infus macet, maupun mengganti
seprai. Aku menikmati saat dimana pasien maupun keluarga pasien memanggilku
dengan sebutan ‘Sus’ (diambil dari kata Suster), padahal aku jelas-jelas calon
bidan. Aku menikmati saat dimana aku mampu bercerita dan berguna bagi pasien
maupun keluarga pasien. Aku menikmati saat dimana kakiku keram, kaku dan
kelelalahan karena bolak-balik, melakukan pelayanan kecil-kecilan. Aku
menikmati saat dimana aku memiliki teman-teman baru dari kampus-kampus yang
berbeda setiap harinya. Aku menikmati senior-seniorku berkomunikasi dengan
pasien maupun keluarga pasien dalam memberikan motivasi. Aku menikmati saat
dimana aku bisa mencuri ilmu dari senior-seniorku. Aku menikmati saat dimana
aku harus bandel mengganti spuit/suntukan yang lama dengan yang baru. Aku
menikmati saat dimana aku membantu memecah ampul, applousing obat, sampai
injeksi. Aku menikmati saat aku dan 6 temanku yang lainnya makan bersama,
berbagi, meski hanya dengan satu porsi lauk. Aku menikmati saat dimana aku dan
teman harus berbagi tempat tidur, secara, notabenenya kami menyewa satu kamar
untuk enam orang, dan kemudian datang Ninin, jadilah bertujuh dalam satu kamar,
lalulah, kami tidur ala sarden ukuran jumbo. Aku menikmati saat dimana aku
keteteran menyingkap waktu, usai dinas lalu tancap gas memenuhi undangan rapat
organisasi di Banjarbaru, dan menjelang maghribnya harus kembali pulang ke
Banjarmasin, dan di waktu yang lain aku kembali ke Banjarbaru usai subuh, meembeku
bersama embun, dengan kepentingan yang sama.
Dan sebagai amunisi tambahanku.... Saat itu tepatnya Sabtu malam, atau
bagi yang sedang dimabuk nafsu berpacaran, mereka biasa menyebutnya malam
Minggu. Aku mendapat tawaran menarik, bakar jagung, aku kira tawaran itu
candaan biasa, yang tidak terealisasikan. Tawaran itu datang dari Kak Ervina
Rahim dan Inunk. Bayangkan, aku baru mengenal kak Ervina dan Inunk, pertemuan
kami tak lebih dari tiga kali... Dan akrab pun hanya melalui berbalas pesan
singkat atau saat bertemu di facebook. Lalu beliau dengan akrabnya mengajakku. Aku
bahagia diakrabi oleh mereka, akhwat-akhwat baik hati.
Malam itu, sabtu malam, dalam gerimis kecil-kecil kami menikmati jagung
bakar, bertiga, si tepian Siring, Banjarmasin. Setelahnya... Kami mengunjungi
rumah agung Allah, Masjid Agung Sabilal Muhtadin, tahukah kalian?! Itu adalah
masjid yang aku impi-impikan, masjid yang membuat aku penasaran. Ternyata...
Subhanallah. Maha Suci lagi Maha Besar Allah yang menciptakan keindahan. Kalian
tahu, Sabilal Muhtadin benar-benar indah, luas lagi megah. Ada lafadz Allah dan
Muhammad di salah satu sisi luar masjid,
aku sampai terperangah. Aku berkeliling bersama kak Ervina dan Inunk, hatiku
semakin bertasbih. Didalam pencahayaan malam saja sudah begini indahnya,
apalagi di kala siang, disaat semua sinar terpusat terang. Subhanallah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar